Dusun Penggaron adalah bagian Desa Penggaron masuk ke wilayah Kecamatan Mojowarno terletak di Kabupaten Jombang, terletak di antara Kecamatan Mojoagung, Ngoro, Bareng, Wonosalam, Diwek, Jogoroto, dan Kabupaten Jombang dan terbentang pada 07° 24’01” – 07° 45’01” Lintang Selatan dan 112° 24’01” – 112° 45’01” Bujur Timur. Batas Daerah: di sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Mojoagung, sedangkan di sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Ngoro dan Bareng. Di sebelah Timur berbatasan dengan wilayah Kecamatan Wonosalam dan Bareng, dan di sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Diwek dan Jogoroto. 

Secara garis besar desa ini hidup dari pertanian menurut statistik 2015, lahan pertanian mendominasi 60% dari lahan yang dimiliki dengan hasil padi, jagung, kedelai, kacang tanah dan kacang hijau. Produk produk yang dihasilkan UMKM salah satunya yang sangat menonjol adalah keripik secara khusus adalah keripik bonggol pisang, kenikir, dll. Potensi alam yang dimiliki berupa sungai dan irigasi (air yang terkontrol), view menuju gunung anjasmoro sangat menarik sebagai pemandangan yang bagus, serta hamparan persawahan. Heritage memiliki dam untuk irigasi, dengan jembatan gantung yang eksotik yang menghubungkan dengan desa disebelah. Saat ini potensi tenun masyarakatnya terwadahi melalui POKMAS Tenun “Wastra Sejahtera”, dengan lokasi workshop di tempat ini. Potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal, karena perlu dukungan pemikiran, program dan anggaran dari pihak luar khususnya Akademisi dan Pemerintah Daerah. Pengembangan SDA dan SDM desa adalah peluang sekaligus unggulan untuk mengembangkan Penggaron sebagai daerah wisata terintegrasi dengan Wonosalam dan sekitarnya. 

POKMAS Tenun “”Wastra Sejahtera”” Adalah sekelompok pengrajin tenun perempuan yang beranggotakan 16 orang, seluruhnya merupakan eks karyawan industri tenun besar di Jawa Timur yang terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK) pada masa pandemi COVID-19 tahun 2019. Mitra berlokasi di Jln Tempuran, Dusun Penggaron, RT 05 RW 04, Desa Penggaron, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang. Atau berada sekitar 72 km dari Kota Surabaya. Secara kewilayahan, lokasi tersebut berada pada posisi strategis karena berjarak ±12 km dari kawasan wisata andalan Kabupaten Jombang yaitu Wonosalam. Wonosalam dikenal sebagai tempat yang dingin dan penghasil durian. Setiap tahun di Wonosalam selalu diselenggarakan event wisata “Kendurian” yang merupakan pesta durian berupa gunungan. Pokmas juga berada ± 5,6 km dari Candi Rimbi, selain itu  terletak di jalur alternatif utama menuju Kandangan, Pare, Kediri, dan Batu (Malang).  Selain itu acara  tahunan besar keagamaan di Kecamatan Mojowarno yaitu Unduh-unduh di GKJW Mojowarno. Event ini merupakan event ucapan syukur jemaat berupa persembahan hasil bumi kepada Tuhan, acara ini sangat ramai dan juga dimeriahkan dengan bazar oleh pemda Jombang. 

SEJARAH

POKMAS Tenun “Wastra Sejahtera” diawali oleh sekelompok ibu ibu eks pekerja  perusahaan Tenun Sarung “X” akibat pandemi Covid. Mereka  berjumlah 30 orang dan berdomisili berdomisili di Dusun Penggaron, Desa Penggaron, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang atau sekitar 72 km dari Kota Surabaya. Dari 30 orang ini sebagian adalah single parent (janda) dengan tanggungan anak yang masih sekolah. Perubahan status inilah yang mengguncang  kehidupan keluarga mereka. Mereka memerlukan uang tunai untuk keperluan sehari-hari anak-anaknya. Urusan pangan sehari-hari masih bisa dipenuhi dari hasil lahan yang sebagian masih memiliki.  Kondisi inilah yang menyebabkan keresahan bagi sekelompok ibu-ibu ini. 

Keresahan tersebut sampailah ke seorang pengusaha batik warna alam “Berkah Mojo” di Desa Mojotrisno, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten  Jombang yang bernama Nusa Amin.  Permasalahan tersebut  dibagikan ke komunitas yang terdiri dari  masyarakat yang mencintai wastra batik yaitu KIBAS. Komunitas ini  berdiri sejak tahun 2009 dan memiliki tujuan untuk mensosialisasikan dan mengedukasi batik jawa timur kepada masyarakat  umum. Keanggotaan KIBAS sangat bervariasi terdiri dari pendidik, usahawan, profesional dan perajin batik itu sendiri. Sehingga gayung pun disambut, permasalahan tersebut mendapat respon positif.

Perbincangan dengan KIBAS, menghasilkan satu kesepakatan, yaitu  membantu ibu ibu untuk tetap berkarya dengan segala keterbatasan.  Dana dikumpulkan dari para donasi secara sukarela dan terkumpul sekitar 15 juta. Kesepakatan awal atas saran dari pengusaha tenun di Mojokerto adalah dengan  cara memberi alat tenun, sehingga bisa melakukan proses produksi. Sementara kebutuhan benang berpola,  dibeli dari pengusaha tersebut, serta hasil tenunnya dijanjikan dibeli oleh mereka. Satu tawaran yang menarik dan cara efektif untuk menolong ibu-ibu tersebut. Investasi berupa alat, material adalah modal utama untuk para perajin tenun tersebut. Ide tersebut direalisasikan dengan membeli alat tenun bekas  sebanyak 10 buah dengan harga 1 juta/ buah. Sisa uang yang ada digunakan untuk modal membeli benang siap pakai sebagai bahan dasar pembuatan sarung.  Hasil pengumpulan donasi tersebut ternyata hanya mampu mempekerjakan sekitar 15 orang untuk semua proses. Alat-alat tenun kemudian dibagikan kepada para perajin di rumah masing-masing. Sehingga mereka bisa mengerjakan di rumah masing masing, sementara ini dianggap paling efektif karena kasus pandemi tidak memungkinkan orang untuk berkumpul. 

Proses ini berjalan cukup lama dan kemudian kelompok ini diformalkan atas saran dan rekomendasi BAPPEDA Kabupaten Jombang melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Jombang sehingga menjadi POKMAS Tenun dengan nama “Wastra Sejahtera”  melalui SK Kepala Desa Penggaron no 61  tahun 2019 yang ditetapkan di Penggaron 9 Desember 2019.  POKMAS ini awalnya diketuai oleh Bambang Irawan. Namun seiring perjalanan waktu yang bersangkutan berpindah kerja ke luar negri, maka Kepemimpinan dipegang langsung oleh Nusa Amin (founder dari organisasi ini).

Tahun 2019 produk tenun yang dihasilkan sesuai dengan skill SDM adalah menenun sarung (lebar 60 CM), jadi produk hanya terbatas sesuai dengan skillnya yaitu  menenun saja. Karena produk terbatas maka market pun menjadi terbatas juga. Pembelian hasil produk jadi yang akan ditampung pengusaha tenun di Mojokerto ternyata tidak sesuai kesepakatan. Pembayaran produk jadi ternyata tidak bisa dilakukan dengan cepat, sehingga pembayaran produk menumpuk lama dan keuangan macet. Permasalahan muncul karena dana terhenti, sementara kebutuhan operasional tidak bisa berhenti. Masalah lain muncul, karena keuntungan yang diberikan ternyata tidak signifikan dengan biaya operasional produksi. Sehingga Suplai ke pengepul di Mojokerto pun terpaksa harus diputus dan mencari peluang pasar ke tempat lain. 

Berdasarkan informasi dari beberapa sumber peluang jual/ setor ke Surabaya tampaknya memberikan angin segar. Pengepul di daerah Panggung Surabaya, memberikan satu peluang untuk setor produk sarung. Hasilnya lebih baik dibandingkan dengan yang di Mojokerto mendapatkan nominal keuntungan lebih, meskipun belum sesuai dengan biaya produksi dan hasil yang diharapkan belum seimbang. Meski demikian proses ini berlangsung cukup lama, karena keterbatasan pasar yang masih bergantung kepada pengepul. Pencarian pasar baru dilakukan secara face to face oleh peserta POMMAS. Pasar baru pun akhirnya didapat melalui pertemanan di area Tengger, Bromo probolinggo dengan label khusus sesuai pemesan “Wisata Bromo”. Pasar  ini masih  berlangsung hingga saat ini.

Tahun 2020 Pemda Jombang POKMAS melalui Bappeda memberikan hibah berupa alat tenun besar dengan lebar maks 105 Cm sejumlah 13 Alat Tenun ATBM yang dipesan di Troso, Jepara., workshop tenun dan juga livingin  di desa tenun Troso, Pecangakan Jepara. Dari hasil program hibah tersebut Skill SDM meningkat dan terdiversifikasi sesuai dengan proses menenun. Skill proses menenun dari benang menjadi sarung akhirnya dapat dilakukan secara mandiri oleh POKMAS ini. Dengan dasar pengalaman menenun, mempermudah SDM belajar tentang proses tenun dari bahan mentah hingga produk jadi.  Kemampuan mengelos, bum, midang, desain, mengikat, mewarna, mengurai dan menenun semua dapat dikuasai dengan baik.

Sejak tahun 2020, POKMAS Tenun “Wastra Sejahtera” telah mendapatkan pendampingan dari tim Universitas Kristen Petra melalui beberapa hibah. Pendampingan tersebut berfokus pada penguatan kapasitas produksi dan diversifikasi produk. Saat ini mitra telah mampu memproduksi tenun secara rutin dengan kualitas stabil. Produk unggulan mitra adalah kain tenun warna alam yang menggunakan bahan pewarna dari Jalawe, Tingi, dan Indigofera Tinctoria, yang ramah lingkungan dan memiliki nilai estetika tinggi. Dari sisi hulu, mitra telah menguasai seluruh proses produksi, mulai dari pengolahan benang, perancangan motif, penenunan, hingga menjadi produk kain siap jual.

Lintu Tulistyantoro (Dosen Program Studi Desain Interior, Universitas Kristen Petra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *